Selasa, 01 Desember 2009

Ranting Ku

cerita dari Sang putri nian anggun...

1 desember 2009

saat berjalan menyusuri hutan pinus...
aku menemukan ranting, ranting yang aku kira bisa menunjukkan arah bagiku...
ranting yang aku kira bisa ku pegang hingga sampai ke lembah itu..
ah..ternyata ranting itu sama sekali tidak bisa ku andalkan...

ranting itu justru berusaha lepas dariku..
tapi aku tetap erat memegangnya karna saat itu aku takut...
takut karena aku hanya sendirian di tengah hutan,

sejenak aku terlelap dan terlarut dalam bunga tidurku..
dalam bunga tidurku, aku menemukan ranting lain yang ternyata bisa memberikanku
petunjuk, bisa memberiku keyakinan bahwa aku tidak akan sendirian..
saat ingin ku ambil ranting itu..aku terbangun
aku menyesal belum sempat mengambil ranting itu..

dalam tidur, aku selalu berharap bisa bertemu ranting itu...
hingga suatu saat ranting itu muncul kembali dalam bunga tidurku
namun ternyata, ranting itu telah berubah..ia merapuh...
tapi aku tetap mengambilnya...berharap ia tidak akan mati
dan selalu menemaniku...

sang putri berucap..
"lebih baik aku hidup dalam mimpi asal aku bisa bersamamu, aku yakin kita akan bahagia," ucapnya.

Senin, 23 November 2009

TerJebaK daLam LingKar LaBiriN

INGINKU...

saat terbangun dari tidurku, dan saat aku membuka mata di pagi hari,
ingin sekali aku melihat manisnya senyummu..
dan membayangkan kamu akan menyapaku dengan panggilan "pagi sayang"...
saat mentari pagi menampakkan sinarnya, aku ingin kamu menggenggam
tanganku dan berkata "wajahmu secantik mentari pagi ini"...
dan di saat itu juga kamu membawakanku seikat bunga mawar merah
dan berkata "aku cinta kamu"...

apa yang aku pikirkan dan apa yang aku rasa kadang membuatku terbang,
terbang mengikuti burung merpati yang membawaku hingga ke langit ke tujuh
dan saat terbang, aku merasa bahagia,..
bahagia karna aku akan menemukanmu di atas langit..
dan setelah kita bertemu, kamu membawaku terbang lebih tinggi lagi
menuju ke taman langit yang penuh dengan wewangian bunga mawar...
"kamu suka bunga nggak," ucapmu padaku dengan setengah merayu.
dan dengan tersipu, aku pun menjawab "iya, aku suka bunga".....

tapi seketika,
aku merasa seperti berada dalam permainan puzzle yang entah kapan bisa ku
temukan teka-teki jalan rumit ini...mungkin, aku bisa terjebak atau
aku terjatuh dan akhirnya aku tenggelam diantara pahitnya luka atau
aku bisa menemukan jalan yang bisa memberiku kebahagiaan..

setelah aku berani terbang, aku takut terjatuh..
karena aku sudah tidak punya sayap lagi...
sayap itu telah merapuh dan sudah tak mau menopangku lagi...

Senin, 16 November 2009

jejak yang hilang

Mencoba mencari jejak diantara genangan air, namun tidak ku temukan,
dan rupanya air telah menghapus jejakmu...Dalam guyuran hujan aku tak
bisa menemukanmu...aku lelah mencari..

Namun, sejenak saat mataku terpejam, aku bisa melihatmu dari kejauhan,
meski ternyata itu hanya sebuah bayang-bayang...hanya bayangan dan
senyumanmu...

Saat kamu duduk di atas keresahan, inginku menjadi kursi tempatmu bersandar
Saat kamu terdiam dalam kerinduan, inginku menjadi bunga mawar merah
pengobat risau mu...

Tapi malam ini aku hanya bisa berpesan lewat bisikan angin
malam....bawalah aku dalam bunga tidurmu..

Senin, 09 November 2009

Malam hanyalah Malam

Ijinkan aku Tuhan...

Seketika sang peri terbuai oleh tatapan mata dan sentuhan jiwanya, lembut dan hangat. Malam namanya. Kala itu, malam pernah berjanji pada sang peri...jika dia akan selalu menjaganya tidurnya..

"Ijinkan aku untuk menjagaku, peri kecil-ku," kata malam pada sang peri.

(dengan wajah memerah, sang peri pun menunduk malu, dan tersenyum simpul)
"Oh, Tuhan ijinkan ia menemaniku saat aku terjaga, saat aku terlelap, dan ijinkan ia hadir dalam setiap mimpiku, ijinkan Tuhan," kata sang peri dalam hati.

Saat malam berganti siang, sang peri gelisah dan resah menunggu hadirnya malam. Ia selalu melirik ke arah jarum jam, yang saat itu masih menunjukkan pukul 12.00 siang. "Rupanya waktu belum ingin berkawan denganku," ucap peri.

Setiap mentari mulai menunduk dan rembulan jadi penguasa langit, wajah sang peri makin riang. Karena, ia tau sebentar lagi malam akan datang menjemputnya, mengajaknya berkeliling bertemu ribuan bintang dan bercengkerama di tengah cakrawala yang dihiasi kerlip bintang. "Ini hari ulang tahunku, kamu dimana malam-ku," tanya sang peri dalam hati.

Detik, menit dan jam berlalu begitu saja tanpa meninggalkan pesan pada sang peri. Hingga waktu beranjak menjelang pagi, malam tak kunjung datang. Sang peri menunduk dan meneteskan air mata seperti bunga layu di padang pasir yang sekian lama tidak bertemu dengan air.

Rupanya, takdir berkata lain, apa yang diinginkan peri kala itu tidak diijinkan oleh Tuhan, Sang Penguasa Alam. Terpaksa malam dihukum karena telah mencintai peri kecil dan telah merebut hatinya. Malam telah melanggar janji saat dia berucap pada langit bahwa dia hanya akan menjaga sang peri tanpa mencintainya.

"Peri kecil, maafkan aku, di hari ulang tahunmu, aku tak bisa membawakan bintang sebagai hadiah persembahanku. Ada jarak yang memisahkan kita dan aku berjanji akan tetap menjaga tidurmu hingga kamu terlelap. Suatu saat nanti aku akan datang padamu dan membawakan bintang paling terang untukmu supaya wajahmu yang cantik akan selalu bersinar," kata malam pada peri meski sang peri tak bisa mendengarnya.

"Malam, jangan tinggalkan aku sendiri, siapa yang akan menjagaku, aku merindukanmu," ucap sang peri lirih.

Selasa, 11 Agustus 2009

daun itu..

daun itu kini telah layu dan perlahan mungkin akan mati..
ternyata selama ini ia kehausan, karna tidak pernah diberi air..
daun itu, mulai mengering terbakar panasnya sinar mentari..

dan ternyata, ranting daun itu merasa kehilangan
karna ia tak bisa lagi melihatnya
karna daun lebih memilih untuk pergi meninggalkan ranting
sendirian.....

sendiri di tengah malam
sendiri di saat hujan badai
sendiri di saat panas
dan sendiri di saat petir menyambar..